selangkah kaki dalam kegalauan
menawar takdir yang kian nyata
buaian senja temaram keangkuhan
jelmakan jiwa dititik ketidakpastian
tertunduk lesu berlinang kesedihan
bertengadah mengharap keberkahan
kian hampa segenap ruang jiwa
terbengkalai dalam penantian luka
bentang ribuan keluhan menggema
menghujat segenap dinding petapa
sudikah hinggap dewa pembawa maut
agar terlepas sang nyawa dari raga
yang kian rapuh dimakan ganas usia
takdir berjalan anggun penuh pesona
menari dalam bingkai siksa dan luka
kelembutannya bagai pinangan maut
yang takkan lepas dan kian merajut
dalam akhir cerita drama anak manusia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Pembaca yang baik selalu meninggalkan Komentar..